Kisah Seekor Ular dan Orang yang Mabuk

Prof. Dr. Shalahuddin Sulthan, seorang ulama dan da'i yang kerap tampil di acara TV Al Nas di Mesir, memiliki pengalaman menarik dengan seorang pemuda di dalam pesawat. Kisah ini dimulai ketika beliau kehilangan kopernya di bandara Detroit,. ......................

Optimis dan Sabar

Salah satu tanda seseorang tidak percaya pada takdir Allah subhanahu wa ta'ala adalah putus asa. Nilai seseorang dalam berusaha akan berkurang jika ia menyikapi segala sesuatu dengan sikap pesimis. Perlu optimisme dari setiap orang untuk melawan hal tersebut..........

Menceraikan 5 Wanita Sekaligus

Al-Ashma’i pernah bercerita tentang seorang suami yang memiliki empat istri dan dia sosok suami yang bertipe kasar. Suatu saat dia pernah mendapati empat istrinya sedang berkelahi dan ribut, maka dia mengatakan, “Sampai kapan kalian ribut seperti ini? Saya yakin ini .. ...............

Senin, 08 Juli 2024

OPTIMIS DAN SABAR DALAM AL-QUR'AN (Q.S. Al-Balad: 1-10, Q.S. Al-Baqarah: 153, 155-157, Q.S. Az-Zumar: 53)


Muhammad Ibnu Hibban (221310004899)

Ahmad Abu Mansur (221310004874)

Alvin Sulistiawan (221310004868)

 

PENDAHULUAN

 Salah satu tanda seseorang tidak percaya pada takdir Allah subhanahu wa ta'ala adalah putus asa. Nilai seseorang dalam berusaha akan berkurang jika ia menyikapi segala sesuatu dengan sikap pesimis. Perlu optimisme dari setiap orang untuk melawan hal tersebut. Menurut KBBI, optimis adalah keyakinan bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik dan menguntungkan. Sedangkan orang optimis adalah subjek dari optimisme. Optimisme dalam Islam adalah keyakinan atau keimanan terhadap pertolongan dan pengampunan Allah subhanahu wa ta'ala. Akar dari rasa optimisme adalah keimanan yang akan menumbuhkan sikap optimis dan menghilangkan rasa putus asa, terutama pada pertolongan dan ampunan Allah SWT.

     Kesabaran adalah hasil dari optimisme setelah seseorang berjuang secara maksimal dengan sikap optimis. Salah satu definisi kesabaran adalah menahan diri dan mengendalikan jiwa. Sabar atau "sabr" dalam bahasa Arab adalah sifat tabah dan tenang dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup. Allah menjelaskan pentingnya kesabaran dalam Al-Qur'an seperti yang dinyatakan dalam Surat Al-Baqarah (2:155-157): "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'."

     Menurut perspektif Islam, optimisme dan kesabaran adalah dua kebajikan yang saling melengkapi. Al-Qur'an memerintahkan umat Islam untuk tetap bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan untuk mempertahankan optimisme dalam rencana Tuhan di tengah-tengah kehidupan yang penuh dengan kesulitan. Dalam pandangan Islam, keseimbangan antara optimisme dan kesabaran merupakan fondasi yang kuat dalam menjalani hidup dengan penuh keyakinan akan kebijaksanaan dan kasih sayang Allah.

 

  METODE PENELITIAN

     Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan (library research). Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca, mencatat, dan menganalisis data dari perpustakaan digital dan non-digital. Sumber data yang digunakan adalah tulisan-tulisan yang relevan dengan permasalahan. Metode yang digunakan untuk mengkaji penelitian ini adalah tafsir maudhu'i atau tematik. Tafsir maudhu'i bertujuan memecahkan masalah dengan menghimpun ayat-ayat al-Qur'an yang memiliki pembahasan yang sama. Langkah pertama dalam penafsiran tematik adalah menentukan topik atau masalah yang akan dibahas, kemudian mengumpulkan ayat-ayat yang relevan dengan pokok bahasan. Adapun masalah dalam riset ini adalah: Sifat Sabar dan Optimis dalam Al-Qur’an berdasarkan Surah Al-Balad ayat 1-10, Surah Al-Baqarah ayat 153, 155-157, dan Surah Az-Zumar ayat 53.

 

PEMBAHASAN

 Optimis dalam Al-Qur’an

         Dalam Islam, optimisme sejalan dengan kebenaran. Karena itu, termasuk dalam perilaku seorang Mu'min. Allah memperingatkan umat Islam untuk tidak bersikap lemah dan bersedih mengingat umat Islam adalah individu yang memiliki derajat yang tinggi, tentunya jika benar-benar seorang Mu'min sejati. Bagi Mu'min sejati, bersikap optimis adalah manifestasi dari kepercayaan dan keimanan kepada Tuhannya. Selain itu, Allah juga berfirman bahwa Dia adalah sebaik-baik penolong dan pelindung. Dalam KBBI, optimis diartikan sebagai "orang yang selalu berpengharapan" (berpandangan baik) dalam menghadapi segala sesuatu. Ada juga yang mengatakan "optimis adalah individu yang mengharapkan hal-hal yang baik terjadi pada dirinya, sedangkan pesimis adalah individu yang mengharapkan dirinya tidak optimis. Pesimis adalah individu yang memperkirakan dirinya akan mengalami hal-hal yang buruk." Dengan demikian, dari definisi optimisme tersebut, kita sebagai umat Muslim sudah sepatutnya menjalankan sifat ini karena optimisme juga merupakan suatu keyakinan akan sifat optimisme. Karena optimis juga merupakan kepercayaan diri yang sangat dianjurkan dalam Islam. Allah berfirman:

 وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 

"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran : 139)

         Untuk memiliki rasa optimis, salah satu yang diutamakan adalah pola pikir yang positif. Terlebih dahulu, kemudian melatihnya dengan perkataan yang baik, yang kemudian diimbangi dengan berbagai tindakan yang akan direalisasikan di kemudian hari. Dimulai dari berpikir positif, kemudian melatihnya dengan ucapan yang baik, memiliki harapan yang besar dengan bertindak. Karena berbagai harapan tersebut kami melakukan upaya-upaya nyata. Tindakan ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari optimisme. Tanpa optimisme, tidak akan ada amalan. Dan tanpa amalan, tidak ada praktik. Jadi, yang menjadi dasar optimisme dalam Al-Qur'an adalah memperbanyak amal dan menjauhi keburukan sehingga dapat meraih kemenangan dan mencapai kebahagiaan sejati.

         Optimisme dalam ajaran Islam haruslah positif dan realistis. Positif artinya optimisme harus pada hal-hal positif yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Tidak diperbolehkan dalam hal kejahatan seperti optimis mampu melakukan perampokan. Realistis artinya sesuai dengan kemampuan. Optimisme ini dibangun atas dasar keimanan kepada Allah swt. Puncak optimisme bagi seorang Muslim adalah interaksi hati dengan Allah. Ibadah wajib dan ibadah sunnah dapat meningkatkan kedekatan dengan Allah. Orang yang mendekatkan diri kepada Allah pasti akan dicintai Allah. Orang yang dicintai Allah pasti beruntung di dunia dan akhirat. Optimisme memiliki dampak yang sangat besar dalam kehidupan, optimisme dapat menumbuhkan rasa percaya diri, merasa cukup, membuat seseorang mampu melihat dunia dengan pandangan yang positif dan efektif. Hal ini semua disebabkan karena tawakal kepada Allah SWT. Optimisme memberikan semangat untuk melakukan perbaikan dan merasakan keindahan dalam segala hal sebagaimana inspirator umat manusia, Rasulullah saw.

 Sabar dalam Al-Qur'an

         Secara etimologis, sabar merupakan serapan dari bahasa Arab yaitu shabara. Definisi shabara memiliki berbagai arti, antara lain sabar atau tabah, menahan atau mencegah, memaksa, mewajibkan, dan menanggung. Sedangkan secara terminologi, sabar juga memiliki makna yang beragam menurut para ulama karena terdapat perbedaan pandangan tentang sabar oleh para ulama. Salah satu definisi sabar secara istilah menurut Dzu al-Nun, sabar adalah menghindari konflik, tenang ketika ditimpa musibah, dan merasa cukup ketika mengalami kemiskinan. Selain itu, menurut as-Sayyid al-Jurjani dalam kitab at-Ta'rif, sabar dapat berarti menahan diri dari mengeluh karena musibah atau penderitaan yang menimpanya kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

         Banyak kaum muslimin yang memahami sabar dalam arti sempit karena mereka mengira bahwa sabar hanyalah pasrah dan diam saja ketika mendapatkan musibah. Selain itu, makna sabar hanya diartikan sebagai sikap yang tahan terhadap musibah yang menimpanya, padahal makna sabar itu sangat luas. Tidak hanya ketika menghadapi musibah atau cobaan yang membutuhkan kesabaran, tetapi juga ketika menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya juga membutuhkan kesabaran.

         Menurut M. Quraish Shihab, di dalam Al-Qur'an, perintah untuk bersabar ditemukan terkait dengan banyak konteks, antara lain: 

1. Dalam menanti ketetapan Allah seperti dalam QS Yunus (10): 109 "Dan bersabarlah kamu sampai Allah memberikan keputusan."

2. Dalam menanti hari kemenangan seperti dalam QS Ar-Rum (30): 60 "Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu pasti."

3. Menghadapi ejekan orang-orang kafir seperti dalam QS Thaha (20): 130 "Dan bersabarlah kamu dalam menghadapi apa yang mereka katakan (berupa ejekan dan celaan)."

4. Menghadapi dorongan hawa nafsu untuk melakukan pembalasan yang tidak adil seperti dalam QS Al-Nahl (16): 127 "Dan bersabarlah kamu, dan tidak ada kesabaran kecuali dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap kekafiran mereka."

 Salah satu makna kesabaran yang sangat penting adalah menahan diri untuk tidak berkeluh kesah atas musibah yang menimpa kita. Hal ini dinyatakan dalam surat Al-Baqarah (2:153), yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

     Sabar merupakan salah satu prinsip ajaran Islam yang sangat penting. Di dalam Al-Qur'an, Allah memberikan penguatan bahwa Dia akan selalu bersama orang-orang yang sabar, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah (2:153): "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Adanya penyertaan dari Allah bagi orang-orang yang sabar adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dengan demikian, kesabaran menjadi nilai penting dalam Islam yang dapat membawa seseorang kepada kebaikan di dunia dan di akhirat.

 

KESIMPULAN

     Dalam ajaran Islam, optimisme dan kesabaran merupakan dua sifat yang sangat ditekankan. Optimisme adalah keyakinan akan pertolongan dan pengampunan Allah yang memotivasi seorang Muslim untuk selalu berpikir positif dan berusaha keras dalam menghadapi segala rintangan hidup. Sedangkan kesabaran adalah kemampuan untuk menahan diri dan tetap tabah dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup. Keduanya saling melengkapi dan membentuk karakter seorang Muslim yang kuat dan teguh dalam keimanan. Dengan optimisme dan kesabaran, seorang Muslim dapat menghadapi segala tantangan hidup dengan penuh keyakinan akan kebijaksanaan dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta'ala.

 DAFTAR PUSTAKA

 - Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.

- M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.

- Al-Qur'anul Karim dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI.

- As-Sayyid al-Jurjani. Kitab at-Ta'rif. Beiruth: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

 


Minggu, 07 Juli 2024

Kisah Seekor Ular dan Orang Yang Mabuk

 




Dari yusuf bin husain, dia berkata, “suatu hari aku bersama Dzunnun Al-Mishri berada ditepi anak sungai. tiba- tiba aku melihat  kalajengking yang besar berada diseberang anak sungai tersebut, lalu nampak pula seekor katak keluar dari seberang anak sungai itu. Kemudian si kalajengking naik ketubuh sikatak, lalu menyeberangi anak sungai.

               Dzunnun berkata, “Inna li Hadzal aqrabi la sya’nan, famhi bina……’ kalajengking ini pasti memiliki misi, mari kita mengikutinya.

               Maka kami pun mengikuti jejaknya. Ternyata ada seorang laki-laki yang mabuk yang sedang tidur. Lalu muncul seekor ular yang datang dan merayap naik ke tubuhnya dari arah pusarnya  menuju ke arah dadanya, nampakya ular itu mencari lobang telinganya. Tiba-tiba kalajengking itu datang dan menyengat ular tersebut sehingga ular tersebut berbalik dan mati. Kemudian si kalajengking itu kembali turun ke anak sungai dan nampak si katak telah menghampirinya, lalu kalajengking itu menaiki punggung si katak hingga ke sebrang anak sungai.

               Dzunnun mambangunkan orang mabuk yang tidur tersebut. Ia membuka matanya, setelah itu Dzunnun berkata: “Wahai anak muda, lihatlah bagaimana Allah menyelamatkanmu. Kalajengking ini membunuh ular yang ingin menggigitmu”. Kemudian Dzunnun menyenandungkan Syair :

         Wahai orang yang lalai, padahal Allah menjaganya

        Dari semua bahaya yang merayap di kegelapan

       Bagaimana mata tertidur dari sang Raja

       Padahal banyak kenikmatan datang dari-Nya

Pemuda itu bangkit dan berkata, “Rabbi, inikah yang engkau lakukan terhadap orang yang mendurhakai-Mu, lantas bagaimana kasih sayang-Mu kepada orang yang ta’at kepada-Mu?” kemudian ia pergi

Aku bertanya, “ mau kemana?”

Ia menjawab, “Aku mau pergi ke pedesaan. Demi Allah, Aku tidak akan kembali ke kota selama-lamanya.

Wallahu A’lam

Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah didalam kitabnya, At-Tawwabiin (hal 135-136)