Muhammad Ibnu Hibban
(221310004899)
Ahmad Abu Mansur (221310004874)
Alvin Sulistiawan
(221310004868)
PENDAHULUAN
Salah satu tanda seseorang
tidak percaya pada takdir Allah subhanahu wa ta'ala adalah putus asa. Nilai
seseorang dalam berusaha akan berkurang jika ia menyikapi segala sesuatu dengan
sikap pesimis. Perlu optimisme dari setiap orang untuk melawan hal tersebut.
Menurut KBBI, optimis adalah keyakinan bahwa segala sesuatunya akan berjalan
dengan baik dan menguntungkan. Sedangkan orang optimis adalah subjek dari
optimisme. Optimisme dalam Islam adalah keyakinan atau keimanan terhadap
pertolongan dan pengampunan Allah subhanahu wa ta'ala. Akar dari rasa optimisme
adalah keimanan yang akan menumbuhkan sikap optimis dan menghilangkan rasa
putus asa, terutama pada pertolongan dan ampunan Allah SWT.
Kesabaran adalah hasil dari
optimisme setelah seseorang berjuang secara maksimal dengan sikap optimis.
Salah satu definisi kesabaran adalah menahan diri dan mengendalikan jiwa. Sabar
atau "sabr" dalam bahasa Arab adalah sifat tabah dan tenang dalam
menghadapi cobaan dan ujian hidup. Allah menjelaskan pentingnya kesabaran dalam
Al-Qur'an seperti yang dinyatakan dalam Surat Al-Baqarah (2:155-157): "Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'."
Menurut perspektif Islam,
optimisme dan kesabaran adalah dua kebajikan yang saling melengkapi. Al-Qur'an
memerintahkan umat Islam untuk tetap bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan
untuk mempertahankan optimisme dalam rencana Tuhan di tengah-tengah kehidupan
yang penuh dengan kesulitan. Dalam pandangan Islam, keseimbangan antara
optimisme dan kesabaran merupakan fondasi yang kuat dalam menjalani hidup
dengan penuh keyakinan akan kebijaksanaan dan kasih sayang Allah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kepustakaan (library research). Penelitian dilakukan dengan cara
mengumpulkan, membaca, mencatat, dan menganalisis data dari perpustakaan
digital dan non-digital. Sumber data yang digunakan adalah tulisan-tulisan yang
relevan dengan permasalahan. Metode yang digunakan untuk mengkaji penelitian
ini adalah tafsir maudhu'i atau tematik. Tafsir maudhu'i bertujuan memecahkan
masalah dengan menghimpun ayat-ayat al-Qur'an yang memiliki pembahasan yang
sama. Langkah pertama dalam penafsiran tematik adalah menentukan topik atau
masalah yang akan dibahas, kemudian mengumpulkan ayat-ayat yang relevan dengan
pokok bahasan. Adapun masalah dalam riset ini adalah: Sifat Sabar dan Optimis
dalam Al-Qur’an berdasarkan Surah Al-Balad ayat 1-10, Surah Al-Baqarah ayat
153, 155-157, dan Surah Az-Zumar ayat 53.
PEMBAHASAN
Optimis dalam Al-Qur’an
Dalam Islam, optimisme sejalan
dengan kebenaran. Karena itu, termasuk dalam perilaku seorang Mu'min. Allah
memperingatkan umat Islam untuk tidak bersikap lemah dan bersedih mengingat
umat Islam adalah individu yang memiliki derajat yang tinggi, tentunya jika
benar-benar seorang Mu'min sejati. Bagi Mu'min sejati, bersikap optimis adalah
manifestasi dari kepercayaan dan keimanan kepada Tuhannya. Selain itu, Allah
juga berfirman bahwa Dia adalah sebaik-baik penolong dan pelindung. Dalam KBBI,
optimis diartikan sebagai "orang yang selalu berpengharapan"
(berpandangan baik) dalam menghadapi segala sesuatu. Ada juga yang mengatakan
"optimis adalah individu yang mengharapkan hal-hal yang baik terjadi pada
dirinya, sedangkan pesimis adalah individu yang mengharapkan dirinya tidak
optimis. Pesimis adalah individu yang memperkirakan dirinya akan mengalami
hal-hal yang buruk." Dengan demikian, dari definisi optimisme tersebut,
kita sebagai umat Muslim sudah sepatutnya menjalankan sifat ini karena
optimisme juga merupakan suatu keyakinan akan sifat optimisme. Karena optimis
juga merupakan kepercayaan diri yang sangat dianjurkan dalam Islam. Allah
berfirman:
وَلَا
تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu bersikap
lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran
: 139)
Untuk memiliki rasa optimis,
salah satu yang diutamakan adalah pola pikir yang positif. Terlebih dahulu,
kemudian melatihnya dengan perkataan yang baik, yang kemudian diimbangi dengan
berbagai tindakan yang akan direalisasikan di kemudian hari. Dimulai dari
berpikir positif, kemudian melatihnya dengan ucapan yang baik, memiliki harapan
yang besar dengan bertindak. Karena berbagai harapan tersebut kami melakukan
upaya-upaya nyata. Tindakan ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari
optimisme. Tanpa optimisme, tidak akan ada amalan. Dan tanpa amalan, tidak ada
praktik. Jadi, yang menjadi dasar optimisme dalam Al-Qur'an adalah memperbanyak
amal dan menjauhi keburukan sehingga dapat meraih kemenangan dan mencapai
kebahagiaan sejati.
Optimisme dalam ajaran Islam
haruslah positif dan realistis. Positif artinya optimisme harus pada hal-hal
positif yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Tidak diperbolehkan dalam
hal kejahatan seperti optimis mampu melakukan perampokan. Realistis artinya
sesuai dengan kemampuan. Optimisme ini dibangun atas dasar keimanan kepada
Allah swt. Puncak optimisme bagi seorang Muslim adalah interaksi hati dengan
Allah. Ibadah wajib dan ibadah sunnah dapat meningkatkan kedekatan dengan
Allah. Orang yang mendekatkan diri kepada Allah pasti akan dicintai Allah.
Orang yang dicintai Allah pasti beruntung di dunia dan akhirat. Optimisme
memiliki dampak yang sangat besar dalam kehidupan, optimisme dapat menumbuhkan
rasa percaya diri, merasa cukup, membuat seseorang mampu melihat dunia dengan
pandangan yang positif dan efektif. Hal ini semua disebabkan karena tawakal
kepada Allah SWT. Optimisme memberikan semangat untuk melakukan perbaikan dan
merasakan keindahan dalam segala hal sebagaimana inspirator umat manusia,
Rasulullah saw.
Sabar dalam Al-Qur'an
Secara etimologis, sabar
merupakan serapan dari bahasa Arab yaitu shabara. Definisi shabara memiliki
berbagai arti, antara lain sabar atau tabah, menahan atau mencegah, memaksa,
mewajibkan, dan menanggung. Sedangkan secara terminologi, sabar juga memiliki
makna yang beragam menurut para ulama karena terdapat perbedaan pandangan
tentang sabar oleh para ulama. Salah satu definisi sabar secara istilah menurut
Dzu al-Nun, sabar adalah menghindari konflik, tenang ketika ditimpa musibah, dan
merasa cukup ketika mengalami kemiskinan. Selain itu, menurut as-Sayyid
al-Jurjani dalam kitab at-Ta'rif, sabar dapat berarti menahan diri dari
mengeluh karena musibah atau penderitaan yang menimpanya kecuali hanya kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Banyak kaum muslimin yang
memahami sabar dalam arti sempit karena mereka mengira bahwa sabar hanyalah
pasrah dan diam saja ketika mendapatkan musibah. Selain itu, makna sabar hanya
diartikan sebagai sikap yang tahan terhadap musibah yang menimpanya, padahal makna
sabar itu sangat luas. Tidak hanya ketika menghadapi musibah atau cobaan yang
membutuhkan kesabaran, tetapi juga ketika menjalankan ketaatan kepada Allah SWT
dan menjauhi larangan-Nya juga membutuhkan kesabaran.
Menurut M. Quraish Shihab, di
dalam Al-Qur'an, perintah untuk bersabar ditemukan terkait dengan banyak
konteks, antara lain:
1. Dalam menanti ketetapan
Allah seperti dalam QS Yunus (10): 109 "Dan bersabarlah kamu sampai Allah
memberikan keputusan."
2. Dalam menanti hari
kemenangan seperti dalam QS Ar-Rum (30): 60 "Dan bersabarlah kamu,
sesungguhnya janji Allah itu pasti."
3. Menghadapi ejekan
orang-orang kafir seperti dalam QS Thaha (20): 130 "Dan bersabarlah kamu
dalam menghadapi apa yang mereka katakan (berupa ejekan dan celaan)."
4. Menghadapi dorongan hawa
nafsu untuk melakukan pembalasan yang tidak adil seperti dalam QS Al-Nahl (16):
127 "Dan bersabarlah kamu, dan tidak ada kesabaran kecuali dengan
pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap kekafiran mereka."
Salah satu makna kesabaran yang
sangat penting adalah menahan diri untuk tidak berkeluh kesah atas musibah yang
menimpa kita. Hal ini dinyatakan dalam surat Al-Baqarah (2:153), yang artinya
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
Sabar merupakan salah satu
prinsip ajaran Islam yang sangat penting. Di dalam Al-Qur'an, Allah memberikan
penguatan bahwa Dia akan selalu bersama orang-orang yang sabar, sebagaimana
dalam surat Al-Baqarah (2:153): "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar." Adanya penyertaan dari Allah bagi orang-orang yang sabar
adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dengan demikian, kesabaran
menjadi nilai penting dalam Islam yang dapat membawa seseorang kepada kebaikan
di dunia dan di akhirat.
KESIMPULAN
Dalam ajaran Islam, optimisme
dan kesabaran merupakan dua sifat yang sangat ditekankan. Optimisme adalah
keyakinan akan pertolongan dan pengampunan Allah yang memotivasi seorang Muslim
untuk selalu berpikir positif dan berusaha keras dalam menghadapi segala
rintangan hidup. Sedangkan kesabaran adalah kemampuan untuk menahan diri dan
tetap tabah dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup. Keduanya saling
melengkapi dan membentuk karakter seorang Muslim yang kuat dan teguh dalam
keimanan. Dengan optimisme dan kesabaran, seorang Muslim dapat menghadapi
segala tantangan hidup dengan penuh keyakinan akan kebijaksanaan dan kasih
sayang Allah subhanahu wa ta'ala.
DAFTAR PUSTAKA
- Departemen Pendidikan
Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.
- M. Quraish Shihab. Tafsir
Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
- Al-Qur'anul Karim dan
Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI.
- As-Sayyid al-Jurjani. Kitab
at-Ta'rif. Beiruth: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
0 comments:
Posting Komentar